Status Quo Untuk UFO



Sejak diteliti serius mulai tahun 1947, hingga kini misteri kehadiran makhluk asing (UFO) masih saja tak terpecahkan. Tak pernah ada kesimpulan ilmiah yang menggembirakan. Sebaliknya, malah cenderung makin membingungkan. Tak kurang dari penerbang tempur Indonesia pernah menguntitnya!

UFO di Jepang Foto UFO di Kaizuka, Jepang pada tahun 1958

Setiap kali berbicara tentang UFO (Unidentified Flying Object) atau yang kerap juga disebut sebagai piring terbang berikut makhluk asingnya, pikiran kita memang seolah terbawa pada hal-hal tak pasti karena minimnya saksi. Sedemikian tak pastinya, hingga tak sedikit yang kemudian memandangnya skeptis. Namun hal ini bukan berarti tak ada pihak yang memperhatikan masalah-masalah ajaib ini.

Beberapa waktu lalu, perihal UFO mendapat tempat istimewa dalam sebuah seminar metafisika di Jakarta. Pembawa makalahnya adalah R Jacob Salatun, seorang mantan perwira tinggi TNI AU yang memang dikenal punya perhatian luas dalam hal kedirgantaraan, termasuk UFO.

Ada hal menarik yang kemudian diungkap selain mengetengahkan kasus serta sifat-sifat umum fenomena yang persisten, global, ganjil, imun terhadap pertahanan udara, dan aktivitasnya yang berpola dan bertahap. Itu adalah tentang jawaban dari pertanyaan Salatun kepada Prof Dr Joseph Allen Hynek ketika berkunjung ke Indonesia di akhir tahun 1976. Hynek tak lain adalah pakar astro fisika asal Universitas Northwestern, AS, sekaligus penasihat utama Pusat Intelejen Teknik Angkatan Udara AS yang pernah begitu dipercaya sebagai peneliti utama UFO di Amerika. Dia berkunjung atas undangan Menteri Luar Negeri (ketika itu) Adam Malik.

Sebagai tuan rumah dan counter-part, Salatun yang ketika itu Ketua Lapan bertanya, bagaimana pikiran Hynek pada waktu memulai tugasnya. Jawabannya ternyata diluar dugaan, terutama dilihat dari kemampuannya sebagai ilmuwan terkemuka, yakni bahwa dirinya mengira tugasnya menyelidiki piring terbang akan seperti penelitian ilmiah lainnya yang paling hanya memakan waktu satu-dua tahun. Perkiraan itu ternyata meleset. Bahkan ketika proyek penelitian UFO ini dihentikan 22 tahun kemudian, pada 1969, jawaban atas teka-tekinya belum juga ditemukan.

“Bahkan sampai hari ini sekalipun, yaitu 52 tahun terhitung sejak 1947 keadaannya masih status-quo,” tandas Salatun.

Mantan Sekretaris Kastaf Gabungan TNI ini juga menambahkan, di dalam pandangan kolumnis fiksi-ilmiah terkenal Erich von Daniken, peninggalan kebudayaan kuno di Amerika Selatan sarat dengan relief maupun artifak lainnya yang menggambarkan kunjungan makhluk-makhluk dari luar bumi. Jika pandangan itu benar, maka fenomena UFO telah berusia puluhan abad!

Global dan ganjil

Dalam makalahnya yang berjudul ‘Misteri Maraknya Manusia yang Diculik oleh Makhluk UFO dan Fenomena UFO’, RJ Salatun juga memaparkan bahwa UFO telah disaksikan hampir di seluruh wilayah Bumi ini. Mereka berkali-kali nampak di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia, Afrika, Australia, Oceania, Arktika, dan bahkan Antartika. Menariknya, sejumlah negara besar memiliki kebijakan yang berbeda dalam mempublikasikan penampakannya.

Kejadian lucu misalnya terjadi beberapa tahun lalu ketika delegasi ilmuwan AS berkunjung ke Cina. Ketika perbincangan menyinggung masalah UFO, kedua negara pun saling bertukar cerita. Usut punya usut pemerintah Negeri Tirai Bambu ternyata memiliki kebijakan yang lebih terbuka. Ini nampak dari berita-berita kesaksian terhadap benda-benda terbang tak dikenalnya yang disiarkan secara bebas tanpa sensor.

Saling tukar cerita ini selanjutnya juga meredakan kecurigaan Cina. Pasalnya, pada tahun 50-an negara-negara Blok Timur mencemoohnya sebagai rekayasa negara-negara kapitalis untuk mengalihkan perhatian masyarakatnya dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.

Di lain negeri, mungkin karena begitu dahsyat keganjilannya, masalah UFO malah cenderung menjadi bahan tertawaan. Salah seorang pakar UFO dari Perancis misalnya, yakni Dr Jacques Vallee, malah menamakannya sebagai “pesta pora kemustahilan-kemustahilan” (festival of absurdities). Itu karena manuver-manuvernya seolah tak terpengaruh gravitasi maupun inertia, bisa berhenti mendadak di udara, berbelik haluan 180 derajad seketika, terbang zig-zag, dan lain-lain.

Kehebatan yang telah menghias majalah dan buku tersebut ternyata juga tak hanya disaksikan penerbang luar negeri. Seorang kolega Angkasa, dia adalah seorang penerbang tempur handal TNI AU, suatu ketika juga pernah memergokinya sekitar tahun 1995 di atas daerah Pameungpeuk Selatan, Jawa Barat.

“Saya tidak melihatnya secara visual namun radar kami menangkap gerakannya yang tak lazim,” kata penerbang yang enggan disebut namanya ini. “Senior saya yang terbang bersama juga mengkonfirmasikan hal serupa. Tak ada pesawat tempur secanggih apa pun yang mampu bergerak seperti itu,” tambahnya.

Ketika itu, ungkapnya, layar radar pesawatnya menangkap benda bergerak dari jarak sekitar 10 mil-laut. Dengan kecepatan yang begitu tinggi, mendekati kecepatan roket, dia mampu terbang zig-zag. Sebuah sifat wahana terbang yang belum mungkin dikembangkan manusia dengan teknologi paling mutakhir sekali pun. Nampaknya sang piring terbang sadar jika dirinya tengah dikuntit. Selama beberapa saat hal itu dibiarkan saja. Namun ketika penguntitan ini berlangsung hingga Lampung Selatan, dengan kecepatan yang begitu tinggi ia bergerak lalu hilang begitu saja dari layar radar.

Selain mampu bermanuver ganjil, UFO juga imun terhadap serangan udara. Diantara sekian pengusiran yang pernah dilakukan komando pertahanan udara sejumlah negara, yang menarik Indonesia termasuk pernah melakukannya pula. Peristiwanya terjadi pada tahun 1964, yakni semasa Indonesia tengah berkonfrontasi dengan Malaysia. Awal masalahnya adalah karena selama tujuh hari, selepas mahgrib menjelang subuh, Komando Sektor Pertahanan Udara di Surabaya memergoki UFO seakan tengah mengintainya.

Melalui sejumlah pertimbangan, UFO-UFO itu dihardik dengan tembakan meriam penangkis serangan udara. Gerakan mereka senantiasa dipantau radar. Uniknya, nampak di layar radar, bagaimana UFO-UFO itu membumbung tinggi setiap kali tembakan mengenai sasaran. Tidak ada yang jatuh. Kecuali di Surabaya, kasus penembakan UFO oleh artileri anti serangan udara juga terjadi di Kepulauan Kurillen yang dikuasai Soviet sekitar tahun 1950-an. Sama saja hasilnya, mereka seperti punya kekebalan terhadap senjata buatan manusia.

Nasib sial justru dialami penerbang MiG-21 AU Kuba. Merasa sudah memasuki jarak tembak, ia segera membidikkan rudal infra-merah K-13 ke arah sebuah piring terbang. Malang, entah mengapa, rudal tersebut justru meledak di bawah sayap dan meleburkan pesawatnya.

Pola operasi tertentu

Sejauh penelitian yang telah dilakukan, para ahli kemudian mencurigai bahwa kehadiran mereka seperti memperlihatkan sebuah pola atau paling tidak pentahapan tertentu. Seperti dikatakan Dr David R. Saunders, misalnya, UFO muncul bersamaan secara regional yang disebut gelombang UFO terjadi setiap 61 bulan atau 1.853 hari dan bergerak ke arah timur. Dikatakan pula, gelombang dari utara ke selatan bukan dalam garis lurus, tetapi agak miring.

Menurut Dr Hynek, UFO berasal dari suatu titik tertentu di langit. Aktivitasnya memperlihatkan pola operasi tertentu, mulai dari pengintaian umum (general reconnaisance) suatu daerah yang luas. Jika mereka menemukan sasaran-sasaran yang patut untuk diselidiki lebih mendalam, maka menyusullah pengintaian rinci dengan daerah yang kian menyempit selama anehnya genap tujuh hari.

“Dari reaksi UFO terhadap sergapan pesawat, bisa disimpulkan bahwa makhluk UFO mempunyai kemampuan berfikir yang melebihi manusia. Sementara jika melakukan pendaratan, mereka selalu menyempatkan diri memungut contoh-contoh mineral, flora, dan fauna, bagai seseorang yang sedang mempersiapkan thesisnya untuk meraih gelar Ph.D,” ujar Hynek.

Pola operasi UFO, masih menurut makalah yang disusun Salatun, juga menunjukkan skala prioritas tertentu. Prioritas pertama yang menjadi sasaran pengintaiannya, adalah segala hal yang berkaitan dengan tenaga nuklir. Baik itu pembangkit tenaga nuklir, gudang senjata nuklir, pabrik pengolahan dan pembuatannya, laboratorium, tambang-tambang bahan nuklir, hingga kapal selam nuklir.

Jatuhnya piring terbang di Roswell, New Mexico (1947) yang amat terkenal itu juga bukan suatu kebetulan jika didekatnya terdapat pangkalan udara tempat bermarkasnya Grup Pembom ke-508 AU AS yang nota-bene merupakan kesatuan udara pertama di dunia yang dilengkapi bom-bom atom. Sampai kini pun, UFO masih merupakan pengunjung setia pangkalan-pangkalan strategis yang memiliki kaitan dengan nuklir.

Sementara itu, prioritas kedua sasaran mereka adalah pusat-pusat perhubungan darat, laut, udara, dan pusat-pusat telekomunikasi. Dan, prioritas keempat aneh bin ajaib adalah badan air tawar, seperti danau, waduk, sungai, dan sebagainya. Menurut Hynek, kuatnya minat terhadap air tawar telah menjadi petunjuk kuat bahwa UFU bukan berasal dari Bumi. Dalam hal ini perlu kiranya dicatat, bahwa dalam kasus kunjungan UFO ke rumah Guntur Soekarnoputra di Jalan Sriwijaya Raya 24, Kebayoran Baru , Jakarta, yang terjadi pada tahun 1981, sasarannya tak lain adalah menara air yang diatasnya bertengger dua drum air tawar.

Selebihnya, yang merupakan prioritas keempat adalah contoh-contoh mineral, flora, dan fauna. Dalam perkembangannya sendiri, dalam dasawarsa terakhir telah terjadi pergeseran prioritas. Pengumpulan data biologis dan medis terutama dari manusia bumi yang diculik dengan paksa akhir-akhir ini rupanya telah menjadi prioritas pertama.

Berusaha menyikapi itu semua, Salatun kemudian bertanya kepada Hynek, persiapan mental seperti apa yang harus dilakukan guna menghadapi keganjilan-keganjilan fenomena UFO. Jawabnya, “Rajin-rajinlah menonton serial TV ‘Star Trek‘.” (adr)www.angkasa-online.com/10/02/lain/lain3.htm


Komentar ditutup.

  • KUMPULAN ARTIKEL

  • WEBSITE KAMI TELAH PINDAH!

    WEBSITE KAMI TELAH PINDAH! Kunjungi website baru kami Klik DISINI

%d blogger menyukai ini: