Berbagai Tantangan Menjadi Ufolog


Oleh: Sheryl Gottschall
Diterjemahkan oleh Etik Susanty (BETA-UFO)

Anda mungkin ditakdirkan menjadi sukarelawan peneliti UFO. Yang dikarenakan pengalaman close encounter yang pernah Anda alami. Pertanyaan sederhana namun tidak mudah dijawab adalah: “Mengapa seseorang mau bekerja keras untuk sesuatu yang mereka sukai tanpa dibayar?”

Tiap orang memang memiliki alasan sendiri-sendiri, namun seorang ufolog sejati akan menjawab seperti ini: “Orang yang memperoleh hasil jerih payah yang maksimal adalah mereka yang bekerja dengan sukarela.” Paradoks yang indah bukan?

Orang-orang yang terjun di bidang ini sadar bahwa “lebih” bukan berarti “lebih baik”. Berjuang memperoleh uang yang lebih banyak tidak berarti dia lebih bahagia dalam mencapai kesempurnaan hidup. Philip Berman menulis dalam bukunya, “The Courage of Conviction”, “seseorang bisa berpikir bahwa kekayaan yang berbentuk harta adalah yang utama namun pada saat bersamaan intelektual dan spiritual seseorang yang berpikir demikian akan berkurang.”

Ufologi merupakan bidang di mana kita tidak perlu bingung soal memiliki uang banyak atau tidak karena para ufolog yang tidak hanya mencari cara untuk menyediakan waktu yang lebih untuk mempelajari fenomena UFO. Mereka dengan senang hati membiayai risetnya sendiri hingga terkadang finansial mereka terkuras. Karena itu tantangan pertama yang kita hadapi adalah finansial.

Memang ada juga lahan lain untuk memperoleh uang dengan catatan para ufolog berani menunjukkan hasil karyanya dengan sukarela. Menulis buku tentang hasil risetnya merupakan salah satu contoh. Akan tetapi perlu disadari cara ini tidak akan menjadikan seorang ufolog itu kaya raya, mungkin hanya akan mengembalikan sedikit modal atas usaha yang sudah mereka lakukan. Keuntungan lain adalah reputasi yang menyebabkan mereka banyak diundang dalam ceramah-ceramah ilmiah di seluruh dunia. Tapi perlu anda ingat kembali biaya perjalanan ditanggung bukan berarti modal anda akan kembali ke kantong. Pada umumnya ufolog akan mengubah pandangan menjadi “sukarelawan yang sederhana” dengan membeli alat yang membiayai perjalanan untuk risetnya. Cara hidup seperti ini ternyata cukup membuat mereka puas dan tidak lagi memikirkan hal-hal yang menguras finansial. Karena ketertarikan dalam bidang tersebut sudah cukup memuaskan.

Meskipun bidang Ufologi secara finansial dapat berjalan dengan cara tersebut, seseorang masih bisa bekerja dan ada penghargaan lain selain uang yaitu pengakuan. Pengakuan merupakan penghargaan yang utama dibutuhkan manusia untuk merasa puas. Rasa diakui, diterima dan dipuji dalam pandangan kelompok lain jauh lebih berarti daripada penghargaan yang lain. Namun, pengakuan bisa tidak cocok jika hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan. Karena itu kita dihadapkan pada tantangan yang kedua yaitu ego.

Ada beberapa ufolog membutuhkan pendapat dari orang lain untuk memperoleh kebenaran dari hasil risetnya. Namun ada juga yang tidak membutuhkannya. Orang-orang seperti ini harus mempunyai pengakuan dan bukti yang valid atas hasil risetnya. Di lingkaran UFO, seseorang tidak dapat mengesampingkan dalam memberi bantuan atau melawan pendapat ufolog lainnya. Jika anda tidak mampu menerima perbandingan dari peneliti lain, maka akan terjadi ketidakharmonisan dan pengelompokan. Karena manusia itu memiliki ego sangatlah lazim bila kita butuh pengakuan. Namun saat seorang mulai mencari pengakuan sebagai ganti dari mencari jawaban atas penyelidikannya, Ufologi akan menjadi bidang yang egois, tidak seimbang dan hasilnya akan negative. Dan hal-hal seperti cara penanganan untuk memerangi hasil riset yang “egois” tersebut telah dilakukan dalam suatu komunitas UFO.

Berlawanan dengan tantangan tersebut adalah kebebasan yang memang dimiliki tiap peneliti dalam menempa hasil penelitiannya. Ufolog bebas untuk mendapatkan ketertarikan personal dan arena riset dan tidak merasa terpaksa untuk menggunakan cara yang terbatas yang banyak dipakai oleh para ilmuwan. Ufologi memberikan ladang yang luas untuk meneliti sesuai bakat serta menampung semua ide bagi semua orang namun bisa juga menolak semua masukan tersebut. Tanpa ada kesepakatan macam ini, mungkin tidak akan banyak sukarelawan yang akan meneliti UFO.

Tantangan yang ketiga adalah idealisme. Seseorang yang memiliki idealisme yang kuat akan menimbulkan toleransi yang kecil karena akan membuat orang tersebut apatis atas lemahnya cara pandang umum tentang dunia baru dan makhluk-makhluk lain yang ada. Karenanya pikiran “menentang” akan muncul perasaan dipisahkan dan diasingkan dari masyarakat umum. Komunitas UFO perlu menjaga perasaan semacam ini dengan cara menjembatani mereka yang memiliki perasaan terasing seperti ini.

Tantangan keempat adalah menjaga semangat menghidari kelelahan yang amat sangat dan menurunkan semangat karena ada perasaan tanpa tujuan. Hal-hal tersebut menjadi tantangan untuk menerima hasil penelitian adalah sama saja dengan “mencambuk kuda berkali-kali”. Karena idealismenya, Ufolog akan bersedia memberikan pengorbanan, namun tidak bisa diterima secara langsung oleh masyarakat luas. Ufolog membutuhkan waktu yang lama supaya masyarakat luas yang dikenal sebagai makhluk yang terkadang keras kepala dan memiliki tingkat penyangkalan yang tinggi sehingga mereka bisa menerimanya. Untuk sementara, anggota komunitas UFO harusnya mampu mempertahankan keyakinannya. Dan menunggu hingga saatnya tiba.

Sebenarnya masih ada tantangan lain, tapi keempat tantangan tersebut diatas adalah yang paling penting dan umum yang ditemui para ufolog sehingga kita bisa mencari cara untuk menanggulanginya.

Selamat berjuang!

Komentar ditutup.

  • KUMPULAN ARTIKEL

  • WEBSITE KAMI TELAH PINDAH!

    WEBSITE KAMI TELAH PINDAH! Kunjungi website baru kami Klik DISINI

%d blogger menyukai ini: